Postingan

Menampilkan postingan dengan label puisipendekindonesia sedekahpuisi puisiramadan puisirelijius

MENIKMATI PUISI KE TUJUH

RAMADAN YANG SELALU PUASA sebab kamulah Ramadan yang selalu puasa sampai hujan tak mengatakan, tidak! Kemayoran, 2018 ----- Ramadan Yang Selalu Puasa adalah puisi ke tujuh dari 9 Puisi Di Atas Tisu yang dimuat dalam antologi Sedekah Puisi (Penebar Media Pustaka, Yogyakarta). Bersyukurlah bagi pencinta puisi yang berharap senang-senang dan mendapat berkah dari puisi ini. Sebab selain puisinya memang sangat pendek, atau dalam istilah lain bisa disebut puisi singkat, sebagaimana layaknya pada semua puisi tidak ada yang mewajibkan anda untuk hafal, cukup dinikmati selintas. Ambil asyiknya. Ambil gairahnya. Kalau di atas bangku pekarangan rumah, kita bisa mengetuk-ngetuk bangku sambil menyenandungkan seasyiknya. Sekenanya. Semau rasa indah. Sehingga sudah menikmati irama dasar musikalisasi, besenandung diiringi ketukan. Gaya mengetuk meja, podium atau kursi ini dulu sering dipakai oleh penyair Hamid Jabar. Kalau penyair Ayi Kurnia Iskadar dari Wanayasa, biasa menepuk-nepuk pahanya se...

TANGIS DAN BAHAGIA

RAMADAN ITU  basah siangnya basah malamnya tak berkesudahan Kemayoran, 2018 Dari antologi Sedekah Puisi, Penebar Media Pustaka, Yogyakarta. ----- Islam yang kafah itu, selamat di siang, selamat di malam. Selamat seluruh bentang 5 waktunya, 7 hari seminggunya, dan 12 bulannya. "MuSaf RaRaJumTsani RasyaRasya DzulHijjah". Doa-doa baik yang sampai. Keadilan dalam kemanusiaan yang beradab. Teduh menyejukkan sepanjang hari, di seluruh waktu. Mulia dan sejahtera. Seperti Ramadan: basah siangnya/ basah malamnya//. Sungguhpun semangat hidup berangkat dari seluruh derai air mata, baik airmata suka maupun airmata duka, tetapi sesungguhnya dalam kasih Allah, hidup ini melulu diliputi oleh rasa syukur. Sebab dalam keadaan bagaimanapun, selalu saja ada yang mesti disyukuri. Minimal potensi diri, potensi dan keadaan lahir batin kita. Tetapi izinkan saya untuk tetap besikeras, jangan paksa saya bersenang-senang sebab itu bisa menyakiti rasa. Kecuali mengajak berhibur seperlunya yang...

YANG MELEDAK DARI DALAM GELAS (?)

RAMBU MALAIKAT malaikat memasang rambu Ramadan "hati-hati dalam perjalanan" aspal yang basah hujan selalu cinta dan persetubuhan nanti keringnya, melulu penantian Kemayoran, 2018 Dari antologi Sedekah Puisi, Penebar Media Pustaka, Yogyakarta. ------ Siapa bilang umat Islam tidak diajari ngebom atau tidak boleh ngebom? Buktinya tentara (TNI) kita yang mayoritas muslim itu juga dilatih seksama cara meledakkan bom dan menggunakannya dalam pertempuran-pertempuran. Ya, sifatnya memang keterwakilan. Dalam prinsip pertahanan dan keamanan yang kita anut, TNI memang terdepan dalam perang. Selain karena harus terlatih secara profesional, juga tidak mungkin seluruh bangsa Indonesia dipaksa jadi tentara. Sebab bakat tiap orang itu beda-beda. Lagipula kebutuhan negara juga banyak, tidak cuma tentara. Negara butuh guru, butuh ustad, dokter, wartawan, artis, pegawai negri, karyawan pabrik, supir, pilot, masinis, pengusaha, petani, nelayan, dst. Tetapi kita mengenal prinsip bela n...

HAFAL, HAPAL, ATAU APAL

BASAH LANGIT RAMADAN SAMPAI KE RAMBUTMU coba selalu bayangkan ada di Ramadan hari ke tiga hujan bacaan-bacaan langitpun basah sampai ke rambutmu Kemayoran, 2018 ----- Kalau ada orang bisa melantunkan lagu Andai Kau Datang dari grup legendaris Koesplus yang sempat dinyanyikan ulang oleh Ruth Sahanaya dalam versi khasnya. Atau lagu Sepohon Kayu versi nasyid.  Atau meletupkan syair heroik-dramatik Chaiil Anwar yang berjudul Aku atau Diponegoro. Atau melafalkan doa-doa harian. Bahkan mampu mengilustrasikan bentuk lukisan Afandi dan Basuki. Atau model tari jaipong ala Gugum Gumbira. Maka masyarakat biasa menjulukinya, "Orang yang hafal", atau "Orang yang sempurna hafalannya". Kata hafal atau hapal kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Sunda atau Jawa akan menjadi 'apal'. Tetapi pada tulisan ini kita tidak akan mempersoalkan mana yang lebih dulu, apal versi Jawa dan Sunda atau hafal dan hapal versi Melayu dan bahasa Indonesia. Termasuk tidak akan jauh-jauh ...