POLIGAMI YANG LAIN (Sosial Budaya - Sosial Keagamaan)
MEMPOLIGAMI BENAR, MULIA DAN HALAL
Saya rindu poligami. Kebenaran. Kepada mulia dan kepada halal. Dua hal yang satu saja. Karena untuk setiap kebenaran dan keadilan, selalu yang saya pikirkan: yang penting mulia, dan yang penting halal.
Dan di dunia yang serba preman sekarang ini, saya tahu resikonya. Prinsip begitu banyak yang benci. Entah berapa definisi banyak di situ. Atau banyak yang gak mau lihat, alias memilih buta. Atau banyak yang memilih memfitnah. Tak Alang kepalang, fitnahnya bisa dengan memutarbalikkan dalil kitab suci. Padahal bagi yang memutarbalikkan kitab suci, jatuh talak hukumnya, telah merubah Al-Qur'an!
Tudingan merubah kitab suci, atau memutar balikkan dalil ini dulu pernah disampaikan Allah ketika di kalangan ahli kitab sekeluarnya dari rumah ibadah menyampaikan tafsir kitab yang berbeda dengan maksud Allah.
Selain itu, ada yang di masa kini ketakutan dengan istilah, halal. Entah trauma apa itu? Baginya teori halal adalah kematian. Padahal terbuka saja, gak tahu definisi halal. Gitu aja kok repot. Mungkin dia biasa nanya kepada orang awam yang gak bisa ngejelasin. Trus diklaim sebagai jawaban umum atas prinsip halal. Sungguh keterlaluan. Kita seperti dikepung!
Gilang Teguh Pambudi
Komentar
Posting Komentar