BERDIRI DAN SIBUK SEPERTI PUISI

Jangan baca tulisan ini. Sebab dengan mulai membaca, anda akan terjebak suka atau tidak suka. Maka itu artinya Anda mulai fokus. Mengomentari, menyelidik dan menghujat jika waktunya tiba.

Mungkin rasa bosan Anda yang besar terhadap tulisan-tulisan, akan membuat Anda rileks. Menjadi semacam Dewa Penyelamat. Karena hidup tidak harus senang membaca. Tetapi kadang anda malah teringat akan sesuatu, jika tidak membaca Anda baru akan terkaget-kaget oleh pemberitahuan orang lain yang serba sepotong tentang sesuatu yang baru, istimewa, atau bahkan sekadar pengulangan yang tiba-tiba menjadi wajib.

Maka pada alinea ini Anda gamang. Untuk terus membaca atau tidak. Karena meneruskan berarti didikte kalimat seseorang. Apalagi penulisnya tidak memiliki daya tarik. Tetapi kalau tidak membaca, bahkan untuk mencemooh saja datanya kurang kuat.

Orang yang membuat tulisan ini suka menulis dengan kata saya dan aku. Padahal bukan Chairil. Lebih dari itu suka menyebut iniku, ituku, dan peristiwaku. Sesuatu yang sangat pribadi sekali. Padahal tidak istimewa. Misalnya, soal bangun tidur di Minggu pagi trus bikin kopi tanpa rokok dan baca puisi. Melainkan sesekali nyucrup kopi sambil terus sibuk mencuci baju. Tetapi di akun Facebook dia membesarkannya dengan kalimat, "Presidenku adalah dia yang setia mencuci baju. Bla bla bla. Sampai ke demokrasi, politik, hukum, kitab suci, alam raya, cinta, syahwat dst". Respon pembaca yang memberi jempol dan like sekitar 4 orang. Karena dari tulisannya di media sosial, kehidupan penulisnya monoton. Maksudnya, terlalu fokus, ke situ-situ melulu. Soal kehidupan melulu. Kalau diumpamakan di ruang kuliah, mungkin para mahasiswanya segera pergi karena bosan. Meskipun mungkin ada satu, banyak, atau semua yang balik lagi dan jujur menanyakan, "Kenapa membosankan?" Dan itu menjebak. Semua mulai fokus. Untuk memuji atau mencaci.

Kalau diibaratkan memimpin diskusi komunitas. Ia dikelilingi pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum. Semua mencatat pesan-pesannya sambil mencibir, "Cuma begini aja?". Apalagi ketika yang mahasiswa sudah tamat sebagai sarjana dan merasa tumpukan bukunya lebih banyak.

Kesimpulannya. Ada kalimat-kalimat besar, setidaknya terdengar agung, tetapi seumpama nyanyian emprit. Sebutan untuk burung-burung kecil yang tidak terlalu dipedulikan orang. Tentu kalah menarik dari ahli posisi dan ahli orasi yang ngartis. Atau yang memang artis.

Gilanya. Penulis catatan ini ngakunya seniman. Pawang Senibudaya. Tentu bikin geleng-geleng batu di dasar kali. Meskipun gelengan itu terpaksa multi interpretasi. Dibilang begitu, dia malah mengaku sebagai batu hitam, batu Gilang, tempat duduk raja budiman. Jelas makin ngaco.  Memuakkan bagi tidak sedikit pihak. Gila hormat sekali. Kelihatan pingin populer banget. Tapi gak tahu caranya. Padahal kiprahnya kecil. Cuma ngebantuin masyarakat ngangkat kayu untuk bikin gapura Agustusan saja disebut-sebut simbul pengorbanan dan kegotong-royongan. Menyebut pentas teater pertamanya, padahal waktu itu baru sekali pentas ---masih pake seragam putih-abu pula--- sebagai dasar dari segala yang besar. Ditambahi penjelasan, Allah telah menitipkan kalimatnya di situ.

Kalau Anda masih di depan teks ini, Anda harus menyalahkan diri sendiri. Mengapa Anda menjadi tambah penting atau merasa ada sesuatu yang penting, atau malah khawatir tidak berguna berlama-lama.

Kalau tulisan ini dimuat di medsos, bisa jadi Anda akan terjebak memberi kode like. Atau cukup like di dalam hati, kalau Anda merasa jauh lebih besar di depan yang sangat kecil dan bisa dilewati. Atau anda malah tidak memberi ampun sedikit pun. Tidak suka.

Membaca peluang diberi tanda tidak disukai, penulis ini, yang serupa mahluk bikinan Allah yang aneh, karena justru memilih menjadi terlalu mudah ditebak, malah membayangkan seorang gubernur atau raja. Yang merasa berkepentingan dengan penulis, tapi tidak bisa mengundangnya, karena tidak tahu harus bagaimana menyikapinya. Padahal membiarkan pemikirannya terlunta-lunta, bisa menjadi sakit hati bersama.

Akhirnya dalam sebuah kepanitiaan seni, atau dalam suatu forum pertemuan dengan seniman, ia dilibatkan saja. Berdiri dan sibuk seperti puisi. Yang penting pernah dilibatkan. Tidak perlu ditegur, tidak diberi tanda. Terpaksa diakui saja, tidak nakal, bukan preman.

Gilang Teguh Pambudi
Cannadrama.blogspot.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERLU GAK HARI AYAH? Catatan lalu.

TEU HONCEWANG

Chairil, Sabung Ayam, dan Generasi Berlagak ABG