ARI, TNI, DAN TANAH YANG BAIK UNTUK MATI

LAGU SERDADU
Oleh: W.S. Rendra

Kami masuk serdadu dan dapat senapang
ibu kami nangis tapi elang toh harus terbang
Yoho, darah kami campur arak!
Yoho, mimpi kami patung-patung dari perak

Nenek cerita pulau-pulau kita indah sekali
Wahai, tanah yang baik untuk mati
Dan kalau ku telentang dengan pelor timah
cukilah ia bagi puteraku di rumah

(Siasat No. 630 Th. 13, Nopember 1959)
#puisipendekindonesia
-----

Itu merupakan salahsatu puisi pendek Indonesia karya WS Rendra. Meskipun ada juga yang masih bersikukuh bahwa puisi pendek itu harus serupa dengan Haiku atau sejenisnya yang cuma terdiri dari beberapa kata bahkan suku kata saja, tetapi menurut saya puisi singkat itu selalu termasuk ke dalam jenis puisi pendek. Sebab ukuran singkat itu serba tidak jelas. Sedangkan Haiku hanya sebuah permisalan.

Puisi pendek adalah puisi yang bisa dibaca cepat dalam intonasi normal dalam setarik nafas. Puisi pendek Indonesia adalah puisi pendek yang berbahasa Indonesia, bukan karya terjemahan, yang bisa dibaca cepat dalam intonasi normal dalam setarik nafas. Tidak lebih dari setarik nafas. Sehingga Haiku berbahasa Indonesia, bukan terjemahan, termasuk asli puisi pendek Indonesia tang mendapat pengaruh sastra Jepang.

Rata-rata, pada manusia umumnya. Bukan pada keahlian khusus apalagi terlatih. Pembacaan cepat dengan intonasi normal atas suatu puisi dalam setarik nafas, hanya bisa dilakukan pada puisi-puisi yang tidak lebih dari setengah halaman buku terbitan panjangnya. Atau kurang lebih sekitar itu. Sehingga puisi yang dimuat dalam selembar halaman penuh apalagi lebih, tidak akan masuk puisi pendek Indonesia. Kalaupun masih ada permakluman adalah yang tipografinya memakan satu halaman, tetapi susunannya cuma terdiri dari satu dua kata, bahkan satu-dua suku kata, pada tiap baris/lariknya. 

Lalu apa yang dimaksud membaca cepat dalam intonasi normal? Maksudnya, pembacaannya secepat mungkin, tetapi harus sangat rapih sesuai dengan maksud kalimat, gaya bahasa dan tanda bacanya. Tidak sampai salah maksud. Tidak boleh terpleset-pleset.

Ya. Menurut saya puisi Rendra yang berjudul Lagu Serdadu itu masuk klasifikasi puisi pendek. Seperti yang sudah sering saya bilang, meskipun saya adalah penulis puisi pendek yang aktif, tetapi saya bukanlah yang mengawalinya. Bahkan masuknya pengaruh Haiku ke Indonesia bukan awal lahirnya puisi pendek Indonesia. Sebab eksistensi puisi pendek ini sudah aset nusantara sejak jaman populer cerita rakyat (termasuk yang humor) lisan yang serba singkat, pantun, kata-kata mutiara atau pribahasa, dll. Posisi saya cuma seorang pemulung khasanah sastra itu.

Salut untuk komposer dan penyanyi, Ari KPIN, teman saya yang seumur hidupnya konsisten, memilih fokus pada musikalisasi puisi. Suatu profesi yang tidak banyak dirambah orang. Padahal sangat dibutuhkan. Minimal untuk merangsang, bagaimana saja cara menikmati puisi sehingga kita bisa bersukacita terhadap kesaksian dan pencerahannya.

Karena dapat saya bayangkan panggung-panggung kenikmatan seni. Berjuta-juta. Manakala sebagian naik panggung baca puisi, sebagian pengisi acara yang lain justru naik panggung untuk menyanyikan puisi. Dan ini bisa menular, menjala jalar ke semua panggung sekolah dan panggung Agustusan. Tidak cuma di Wisata Sastra dan Malam Puisi saja. Ke mana-mana. Bahkan ke seantero dunia.

Salut untuk Ari KPIN yang di hari peringatan TNI (dulu ABRI) 2018 ini telah membuat musikalisasi puisi dari puisi Rendra berjudul, Lagu Serdadu. Yang kemudian disosialisasikan ke berbagai media sosial sebagai bentuk ungkapan bangga, "dirgahayu TNI". Yang juga telah menginspirasi saya untuk membuat tulisan ini.

Dalam puisi itu, selain kita menemui banyak ketakjuban, salah satunya ketika menemui kalimat yang menyebut, TANAH YANG BAIK UNTUK MATI. Kita juga seperti diteror waktu untuk segera memahami istilah 'darah penuh arak'. Yang tentu saja bukan darah tukang mabuk-mabukan. Bukan. Kalaupun bernilai mabuk, mabuknya mabuk Allah.

Pada diri seorang aparat keamanan, termasuk aparat perang pembela bangsa, tentu yang dikedepankan adalah prinsip keadilan dan kemenangan. Maka wajarlah seseorang bersaksi atau disebut penyair, "Izinkan darah muda yang masih campur arak (merasa selalu penuh dosa) ini berjuang menegakkan keadilan!" Sebab hanya dengan cara demikian keadilan pasti akan menang.

Istilah yang sensasional dan bernilai perdebatan seperti itu juga ada di puisi Rendra yang lain yang berjudul Doa Seorang Serdadu Sebelum Berperang, berikut ini:

Tuhanku,
WajahMu membayang di kota terbakar
dan firmanMu terguris di atas ribuan
kuburan yang dangkal
Anak menangis kehilangan bapa
Tanah sepi kehilangan lelakinya
Bukannya benih yang disebar di bumi subur ini
tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia
Apabila malam turun nanti
sempurnalah sudah warna dosa
dan mesiu kembali lagi bicara

Waktu itu, Tuhanku,
perkenankan aku membunuh
perkenankan aku menusukkan sangkurku
Malam dan wajahku
adalah satu warna
Dosa dan nafasku
adalah satu udara.

Tak ada lagi pilihan
kecuali menyadari
-biarpun bersama penyesalan-
Apa yang bisa diucapkan
oleh bibirku yang terjajah ?
Sementara kulihat kedua lenganMu yang capai
mendekap bumi yang mengkhianatiMu

Tuhanku
Erat-erat kugenggam senapanku
Perkenankan aku membunuh
Perkenankan aku menusukkan sangkurku.

18 Juni 1960
Mimbar Indonesia, Th. XIV, No. 25
------

Perhatikan baik-baik dua baris ini:
......
perkenankan aku membunuh
perkenankan aku menusukkan sangkurku
......
Lalu perhatikan dua baris yang lain:
......
Dosa dan nafasku
adalah satu udara.
......

Pilihan kata pada kalimat-kalimat itu terkesan keras dan urakan meskipun isinya tidaklah demikian. Mengilustrasikan serdadu yang mengaku di hadapan Allah Yang Maha Mulia, hidupnya masih selalu penuh dosa, penuh luka-luka, tetapi tidak bisa tinggal diam melihat berbagai kebiadaban di negri tercinta ini. Maka terpanggilah untuk menunaikan kewajiban, membunuh secara halal. Supaya keadilan dan kemanusiaan yang beradab selalu menang. Meskipun tak ada perang dan pembunuhan sesungguhnya jauh lebih menyenangkan.  

Begitulah Rendra bangga pada kerja TNI-nya, yang tidak jauh, selalu dielu-elukan pelukan ibu. Sebab tugas TNI selalu berada di antara hidup dan mati. Tentu matipun bukan membeli kesia-siaan.

Begitulah Ari KPIN, mengingatkan semua hari ini dengan langkah apapun yang berkaitan dengan musikalisasi puisi. Sampai di akun aosial facebook videonya saya kasih 'like', lalu saya komentari dalam kalimat pendek yang sesungguhnya berisi pesan terlalu panjang yaitu, "Terus selalu!". Dan dia menjawab, "Siap Komandan!" Subhanallah. 

Dirgahayu TNI.

Gilang Teguh Pambudi
Cannadrama.blogspot.com
Cannadrama@gmail.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERLU GAK HARI AYAH? Catatan lalu.

TEU HONCEWANG

Chairil, Sabung Ayam, dan Generasi Berlagak ABG