HIDUP RAMADAN (4)

hidup ini wajib puasa
sebab dengan menahan diri
akan hadir kemuliaan dan kesejahteraan

Dari puisi Hidup Ramadan
Buku Tadarus Puisi - Penebar Media Pustaka - Yogyakarta 
----

Tulisan ini dibuat pada hari ke 5 bulan suci Ramadan 1440-H. Jadi wajar kalau ditengahi oleh beberapa kenangan silam, terutama peristiwa pada bulan-bulan Ramadan tahun lalu.

Dari serentetan kenangan itu ada juga yang membekas kurang sedap rasanya, yang membutuhkan momen pelepasan. Misalnya dua peristiwa ini. Pertama, dulu saya pernah menerbitkan buku antologi puisi, Syair Wangi. Sebagai buku komunitas, buku ini terutama saya harapkan bisa menjadi teman saat merenung bersama komunitas-komunitas yang bakal saya temui di manapun. Isinya syair berantai yang terinspirasi oleh kedasyatan 99 asmaul husna. Dinikmati dari ke-Nusantaraan yang indah, damai dan mesra. Tetapi ada seseorang yang sama sekali tidak menyambut sukacita buku saya itu. Jangankan berniat membeli dia bahkan berdalih dengan nada meledek, "Sudah ada Al-Qur'an".

Kedua, ketika saya sering menulis di blog, catatan-catatan dan puisi yang kental nuansa relijiusnya. Juga sering menulis hal serupa di media sosial. Ada yang nyeletuk meledek di media sosial, "Islam diutak-atik. Sudah ada Rosulullah. Kalau mau bikin aja agama baru". Saya kaget. Gak ngerti arah maksudnya. Sebab tulisan-tulisan saya justru menunjukkan cinta Allah, cinta Al-Qur'an dan cinta Rosulullah. Sampai-sampai dalam hati saya marah juga, "Kalau sampeyan suka nulis puisi, dengan sikap demikian, suatu saat jika Allah mrnghendaki, puisimu dan sikapmu itu bisa dimaki-maki orang!"

Sementara itu, ada pihak lain yang justru menuding saya terlalu Islami. Telalu fanatik. Terlalu menguntungnkan umat Islam. Tentu saja, selain bikin geleng-geleng kepala, saya sampai berkali-kali nulis tentang pentingnya memahami sesuatu melalui pintu cara baca yang benar. Dan sebagai kritiknya, apakah dunia pendidikan kita sudah sukses program melek bacanya? Sampai di mana?

Tetapi di hari Romadon kali ini saya justru berdoa baik, semoga hidayah yang besar menyertainya. Amin. Tetapi setidaknya, jika suatu saat tulisan dan puisi-puisi saya bisa sampai ke tangan para pembaca, itu adalah tulisan dan puisi-puisi yang pernah dihina, direndahkan.

Puasa memang sangat menyadarkan kita akan posisi utama dan strategis dari puasa. Sebagai kewajiban yang tak tertolak. Apalagi Islam dengan sangat gamblang, sebagai ajaran terbuka bagi segenap manusia, menyebut ada puasa wajib dan puasa sunah. Yang dengan sangat gamblang pula ditafsirkan, menahan diri itu ada dua macam. Yaitu berupa kewajiban menolak segala yang haram, dan meninggalkan segala hal yang tidak perlu agar kita bisa fokus pada prioritas utama.

Di dalam puasa Romadon sendiri pahala wajib dan sunah itu menyatu. Selama kita menunaikan kewajiban menahan diri, meninggalkan segala jahat-maksiat, maka kita akan mebdapatkan pahala dari itu. Tetapi ketika kita meninggalkan segala yang dipandang tidak perlu, kita juga akan dimenangkan dalam hal-hal yang lebih utama. 

Pertanyaannya, apakah makan-minum sesuatu yang jahat-maksiat, atau sesuatu yang perlu ditinggalkan untuk menggapai prioritas-prioritas? Tentu saja makan-minum bisa bernilai jahat-maksiat, tergantung apa yang dimakan-minumnya. Meskipun kadang-kadang selintas tak nampak buruknya. Korupsi, misalnya. Atau mencuri harta yatim dan kaum miskin. Ini masih urusan makan-minum. Maka wajib ditinggalkan. Perlu dilatih selama bulan suci Romadon, dengan menahan makan-minum. Supaya kita sidik. Selain itu, benar, menahan makan-minum seperti yang dilakukan pada bulan suci Romadon juga bisa berdampak menyelamatkan skala prioritas selama proses menggunakan rejeki yang kita dapat. Kita jadi sangat hati-hati. Tidak serakah dan menghambur-hamburkan rejeki.

Romadon memang titik penyadaran yang sangat tinggi atas segala upaya menahan diri. Maka beruntunglah bagi hamba Allah, mukmin-muslim yang mengarungi 12 bulan hidupnya dengan enerji Romadon. Termasuk dalam hal bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Apalagi tahun lalu Indonesia resmi masuk anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB. Ditambah lagi, di bulan Mei sekaligus di bulan suci Romadon sekarang ini, di era Presiden Joko Widodo, sah menjadi Presiden Dewan Keamanan PBB. Maka, memimpin lembaga keamanan dunia di bulan suci Romadon harus berharum-wangi menahan segala pertikaian di muka bumi, dan lebih mendatangkan semangat persaudaraan antar negara, antar bangsa, dan sesama bangsa.

Saya sendiri, selama ini sebagai pembina komunitas seni, baik melalui tulisan atau siaran radio, kunjungan maupun undangan komunitas, atau melalui diskusi dengan beberapa koordinator serta mengadakan berbagai acara seni yang melibatkan berbagai komunitas, selain fokus pada proses kreatif dan apresiasi seni, juga memberi penekanan besar terhadap budaya anti. Yang di bulan Mei atau terinspirasi Hari Kebangkitan Nasional biasa saya sebut, BANGKIT ITU ANTI. Anti peperangan yang merugikan umat manusia, anti jahat-maksiat anti teroris, anti korupsi, anti perusakan dan pencemaran lingkungan, anti penyalahgunaan miras dan narkoba, anti pembodohan dan pemiskinan, dst.

Sesuai dengan bait keempat dari puisi saya, Hidup Ramadan, di awal tulisan ini, kita selalu dituntut untuk memahami posisi strategis yang menyelamatkan umat manusia dari puasa wajib itu. Siapa berani menolaknya?

Kemayoran, 10 05 2019
Gilang Teguh Pambudi
Cannadrama.blogspot.com 
Cannadrama@gmail.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERLU GAK HARI AYAH? Catatan lalu.

Chairil, Sabung Ayam, dan Generasi Berlagak ABG

TEU HONCEWANG