DINDING PUISI 258

DINDING PUISI 258

Ini pengalaman yang lumayan kalau dibagi. Seperti sepele tapi sangat perlu diketahui. Dan saya tulis daripada lupa. Suatu waktu, ketika saya masih programmer (kepala siaran) #radio Lita FM Bandung, mendapat tantangan dari Kepala Studio, H. Iwan Puratama, S.Sos. Untuk membuat puisi jelang buka puasa selama satu bulan penuh, bulan Ramadan. Saya fikir ini tantangan yang bagus, perlu dieksekusi, dan tentu saja masuk dalam pemrograman saya.

Apa yang nenarik? Tentu banyak, mulai dari soal proses kreatif bikin puisi yang seperti kerja untuk pesanan. Tapi bukan itu yang saya maksud pada tulisan ini. Kita bicara soal menulis untuk segmentasi lagi. 

Betapa tidak, tidak cuma sekali duakali saya harus mengganti kata, frase, atau merubah bentuk kalimat hanya gara-gara pertimbangan, tidak akan banyak pendengar yang bisa menangkap isi puisi dengan mudah jika tanpa perubahan. Meskipun dari sisi tinjauan estetika bisa disebut lebih baik tanpa perubahan. 

Apalagi jika anda dengar satu dua pendengar yang berkeluh kesah, "Kalau dengar pembacaan puisi, saya suka tidak paham pada kata-kata atau kalimat-kalimat tertentu". Sebagai programmer tentu saya akan langsung mendeteksi jumlah. Representasi berapa persen pendengar yang bakal berucap sama? Bukan berarti mau meninggalkannya kalau persentasenya kecil.

Jangan samakan ketika saya on air membacakan puisi-puisi pada acara mingguan, Apresiasi Sastra. Baik karya sendiri atau karya penyair-penyair lain. Tentu semua mengalir normal. Hal-hal yang terasa agak rumit bagi masyarskat umum, tidak bagi Apresiasi Sastra. Apalagi kalau ada durasi untuk mengupasnya. 

Saya merasa konsisten. Menulis puisi dengan gaya menyesuaikan diri dengan segmentasi penonton atau pendengar tidaklah dosa. Termasuk ketika saya tiba-tiba ingin nembantu para guru untuk segera menerbitkan, antologi puisi untuk anak-anak PAUD, TK dan SD kelas 1,2,3. Sebab puisi punya cara kerja yang sangat istimewa. Itu saja. 

Pada PAUD dan TK, di usia bermain sambil belajar itu, membaca huruf dan rangkaian huruf bukanlah hal utama. Baru sebatas pengenalan awal belaka. Apagi baca puisi, mereka gak boleh dipaksa untuk bisa baca. Tetapi sepanjang yang saya amati, mereka bisa menyanyi karena sambil bersenang-senang mereka bisa berulang-ulang menghafal lirik nyanyian. Bukan karena mampu membaca liriknya. Inilah kuncinya. 

Dalam puisi pun sama. Seorang guru cukup membaca puisi perbaris yang pendek-pendek, lalu mereka mengikutknya. Tentu, dengan memperhatikan intonasi dan ekspresinya, anak-anak bisa menebak dan merasa-rasa maksud puisi itu. Misalnya tema, menanam bunga. Ini yang utama. Bahkan jika diulang-ulang pembacaannya, mereka bisa sehafal lirik lagu. Tapi ini tidak untuk itu. 

Siapapun bisa membuat puisi untuk anak-anak PAUD dan TK, tetapi harus peka terhadap tema yang sesuai, usia dan tumbuh-kembang anak. Dan biasanya berupa puisi pendek, tidak jauh beda dengan lirik lagu yang juga pendek-pendek. Sekaligus ini mengingatkan kita pada eksistensi puisi pendek Indonesia dari sudut pandang yang lain. 

Kemayoran, 2020 
Gilang Teguh Pambudi
Cannadrama@gmail.com
Cannadrama.blogspot.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERLU GAK HARI AYAH? Catatan lalu.

TEU HONCEWANG

Chairil, Sabung Ayam, dan Generasi Berlagak ABG