BERKAH HUJAN JAKARTA
JIKA KAU IHLAS BERTANYA
YANG MENJAWAB ADALAH DIRIMU
alamu
alammu
Jumat, April, 2017
------
Pagi sudah beberapa hari Jakarta hujan terus, minggu-minggu sebelumnya sudah turun tapi masih jarang-jarang. Selain repot berangkat kerja naik motor, orang yang seperti saya pasti repot juga tiap pagi nganter anak ke sekolah.
Tapi untung. Hati saya masih berbunga-bunga, mungkin juga anda yang punya perasaan sama. Ketika anak yang kita antar masih 100% semangat berangkat ke sekolah. Alhamdulillah. Ini berkah yang besar. Surga.
Kalau kita tengok masa lalu kita, semua seperti cermin besar. Selama kita rajin berangkat ke sekolah, tidak telat, apalagi pada jam piket kelas, kita kala itu pasti merasa menjadi remaja yang penuh tanggungjawab. Dan itu kita sadari benar. Ada rasa puas di depan teman-teman, para guru, dan di hadapan Tuhan. Meskipun teman-teman tidak pernah komen soal kita rajin, guru juga tidak ada yang tahu.
Entahlah pada anak-anak yang lumayan bandel. Seperti apa hati mereka? Masuk sering kesiangan, piket telat, pulang ingin bolos mulu.
Ternyata cinta lingkungan sekolah, cinta berangkat ke sekolah, cinta berlama-lama di sekolah, cinta belajar, cinta teman-teman, cinta guru-guru, dan cinta pulang sekolah bersama-sama pada jam pulang seperti ombak yang tumpah adalah angka malaikat. Keceriaan dengan cahaya yang besar. Yang tidak akan membuat murung di masa depan. Sebab paling menyakitkan adalah mengenang masa lalu yang gelap.
-----
KETETAPAN WAKTU
Ketika orang berdalil dengan kitab suci, wajib jarum jam berputar ke kanan depan, waktu malah sedang memutar jarum jam dinding ke kiri belakang untuk menepatkan diri dengan ketepatan.
-----
Tentu. Di masa depan ada saja teman yang dulu bandel, ternyata sukses setelah menemukan jati dirinya yang lebih baik. Pendeknya, lekas menyadari kekeliruannya. Mereka ini bahkan bisa lebih sukses daripada kita dalam beberapa hal. Sampai kita harus merasa salut.
Mereka muak dengan kalimat, "Dulu juga aku bandelnya bukan main".
Tapi sebenarnya ada juga yang sukses tetapi masih terpenjara dalam ujian. Yang kita sulit membayangkannya. Yaitu jika ada teman sekolah yang dulu bandel, apalagi suka bikin ribut melulu, tetapi dikabarkan hari ini sukses. Tetapi tilik punya tilik, ternyata hidupnya masih bandel juga. Sudah beristri dan beranak tapi masih preman. Ini jelas pemandangan yang menyakitkan. Betapa tidak? Malah kita yang takut, kalau suatu saat nanti dia kena batunya. Kena hisab Allah yang sangat dekat.
Mereka ini masih suka dengan kalimatnya, "Saya dari dulu memang bandel". Kalau laki-laki ditambahi dengan pernyataan, "Bukan laki-laki kalau tidak bandel". Bahkan kalimat itu dengan sadar dutularkannya juga kepada anak-anaknya, tetapi dengan kalimat titipan, "Jangan berani bandel pada orang tua".
Ya, kita ini memang mesti berfikir standar sejak masa sekolah hingga berumahtangga. Sukses adalah menjadi orang baik yang bisa membawa diri kapan pun di manapun. Tidak muluk-muluk dari itu. Cukup bermanfaat bagi diri, keluarga dan minimal tidak menjadi masalah bagi masyarajat. Ini cinta bangsa dan negara namanya. Menggapai rido Allah. Syukur-syukur malah menjadi bagian dari solusi di tengah masyarakat, apalagi bisa berbuat banyak.
-----
...
dan tatapanmu
utara paling selatan
dendam jantan
nafsu paling rindu
-----
Mengantarkan anak ke sekolah meskipun di bawah guyuran hujan deras, adalah momen cinta yang besar. Pagi ini saya masukkan sepatu ke dalam tas, celana digulung dan memakai sendal. Anak laki-laki saya pun begitu, tetapi dia gak mau pake sendal, katanya ribet nyimpen di sekolahnya.
Ini sebuah sinetron. Film bioskop yang mahal.
Beruntunglah anda yang mengantarkan anak ke sekolah pakai mobil. Tidak perlu pakai jas hujan, menggulung celana dan lepas sepatu. Tetapi satu kerugian anda, anda tidak bisa menonton atau berperan dalam film saya, sebab yang itu pasti lain judulnya.
Sedangkan kisah saya dan anak-anak saya adalah cerita bersambung yang selalu romantis. Paling romantis bahkan. Sekali lagi, beda judul. Sebab saya pun dalam posisi tidak berperan dalam sinetron anda.
Saya jadi ingat peristiwa semalam. Pulang sekolah jam satu siang anak saya langsung tanding futsal. Cuma memeriahkan pertandingan antar RW di Jiung, Kemayoran. Solidaritas pertemanan. Meskipun di laga awal itu timnya menang, dia pulang agak murung. Entah kenapa. Saya cuma bilang, "Papa jangan dikasih murung". Ternyata benar, beberapa menit kemudian dia sudah menyanyi mengikuti musik di hp dan tersenyum. Saya bilang, "Bagus, berarti memang gak perlu murung".
Pagi harinya seperti biasa, saya ngantar dia ke sekolah. Basah-basahan.
Kemurungan adalah hal biasa dalam hidup manusia. Tetapi ada murung selintas, ada murung yang dalam. Murung selintas adalah reaksi sederhana atas peristiwa spontan. Yang mesti dipola, agar tidak mendatangkan murung bertubi-tubi, jadi kebiasaan buruk. Seperti manusia yamg terbiasa judes.
Adapun murung yang dalam adalah keadaan sulit menerima sesuatu yang dianggapnya serius mengganggu hatinya. Ini butuh pencerahan. Karena psikologis manusia bisa menganggap sesuatu yang sederhana menjadi peristiwa yang terlalu dalam menyinggung perasaannya. Sampai-sampai ini membahayakan dirinya, sebab membuat dia dan orang lain tidak bisa membedakan antara murung yang semu, dan murung yang dalam, yang luarbiasa.
Saya teringat almarhum bapak saya ketika anak saya yang pertama lahir. Baru berumur dua tahunan. Dia bilang, "Yang penting, anak-anak jangan terbiasa dibuat manja". Saya tahu maksudnya, anak laki-laki ataupun perempuan mesti menemui kesejatiannya. Laki-laki mesti bagaimana, perempuan mesti bagaimana? Jangan membuat pantangan yang mematikan potensi baik keduanya. Termasuk jangan memanjakan yang justru mematikannya untuk mandiri.
Saya bersyukur ketika anak pertama saya yang perempuan, tamat sekolah semangat kerja. Sambil saya bilang, jangan lupa kuliah. Sementara di depan anak kedua yang laki-laki, saya masih dalam harap dan cemas, seperti halnya para orangtua di manapun, siapapun.
Dan mengantar anak ke sekolah, adalah bagian dari harap dan cemas itu. Bukan sedang memanjakan. Begitupun orang-orang baik yang mengantarkan anaknya pakai mobil mewah. Tentu dia dalam harap dan cemas juga, bukan sedang memanjakan. Bukan biar kelihatan lebih mewah daripada teman-teman sebaya.
Kadang anak saya bawa motor sendiri ke sekolah, kalau terpaksa. Sehingga saya dari rumah bisa langsung tancap gas ke tempat kerja. Tapi saya serba salah, sebab anak SMP belum cukup umur untuk punya SIM. Padahal kalaupun punya SIM, saya masih khawatir, sebab pelajar naik motor bisa merasa lebih penting daripada prestasinya. Itu rendah sekali. Sebab kelak dewasa, naik mobil bisa dianggap lebih istimewa daripada harga dirinya. Untungnya, saya masih bisa kasih amanat, "Jangan muter-muter ke jalan raya yang ramai, pakai jalan kampung saja (istilah jalan alternatif yang lebih sepi dan aman), dan tidak ada kamus ngebut".
Kalau sudah beberapa hari dia naik motor sendiri ke sekolah, saya mulai rindu. Ingin dia ada di jok belakang motor saya pergi ke sekolah. Biarpun hujan deras seperti hari ini. Sebab saya bisa melihat punggungnya, turun dari motor menuju ke halaman sekolah. Laki-laki yang ganteng! Seperti saya dulu, tapi dia lebih jaman now. Benar-benar puisi.
Dulu waktu SD dia senang pakai sepeda ke sekolah sebab jaraknya lebih dekat. Itupun suka saya ikuti setengah jalan. Lalu pisah di belokan. Dia ke kanan saya ke kiri. Senang lihat dia berpakaian rapih dan mengayuh sepedanya. Presiden sekali. Apa anda merasakan suasana yang sama?
Suatu saat nanti, semoga saya bisa mengantarkannya ke bandara. Ketika dia sudah berani sendiri naik pesawat terbang menuju Manado tercinta. Ketemu ibunya di sana.
Dua kenangan pernah saya titipkan. Kakaknya, waktu balita pernah saya rekam tangisnya. Lalu saya jadikan sound efeck di radio setiap kali membuat drama radio. Sementara adiknya ini, umur kekas dua SD saya ajak naik panggung baca puisi. Agar kelak menjadi ritual kesaksian dan penyadaran, beradab itu indah. Tetapi meskipun demikian saya tidak memaksa mereka untuk jadi seniman. "Jadilah apa saja yang disukai Tuhan, semata-mata untuk rido Allah SWT". Begitulah.
------
MUHAMMAD & PUISI
kalau masa lalu
kau anggap kematian
maka kematian milik puisimu
kematian pula Namamu
alangkah bengisnya kamu
menolak Muhammad di situ
Kemayoran, 2011-2017
-----
SELALU CERITA
hangat gurun
anak-anak cinta
dan Muhammad
Kemayoran, 2011-2017
-----
Gilang Teguh Pambudi
Cannadrama.blogspot.com
Cannadrama@gmail.com
Komentar
Posting Komentar