YUK JADI NARASUMBER SENIBUDAYA DI RADIO

...

mesjid menangisi awal berdirinya
kursi taman melupakan
bunga yang tumbuh dari kakinya
panggung-panggung tak bergerak
kecuali terdengar gemeretak

Bandung,  1999-2000
-------

HAL JALAK

tapak jalak
galak jalak
gelak jalak
kelak jalak

Kemayoran,  2010-2018
------

...

mata
membeliak
senja
gapura 
menari
bersama
lampu-lampu
tumbuh
aku
menyambangi
selendangmu
gamelan gemeretak
pada
kuncup
sedap malam
atau 
wangi soto
dalam
mangkuk
kota
kecilmu

Purwakarta,  2000-2010
-----

...

berapakah harga puisimu
apakah 500.000 rupiah
sekali dimuat koran?

Kemayoran,  2010-2018
-----

JAIPONG

goyang
gitek
geol dan
gilang

Purwakarta,  2000-2010
------

UJUNG DAUN DI ATAS BUKIT

biarkan
ujung daun terakhir ini
nyala

Sukabumi,  1991-1994

#puisipendekindonesia
-----

Mungkin banyak yang bertanya-tanya,  bagaimana caranya saya bisa jadi narasumber acara Apresiasi dan acara Apresiasi Sastra di radio-radio? Setelah membawakan acara seperti itu lebih dari 20 tahun,  tentu tidak salah kalau asam-garamnya diketahui orang. Berbagi.

Tetapi sebelum masuk ke uraian singkat,  kiat jadi narasumber senibudaya itu,  lebih awal kita mesti tahu apa tujuan acara apresiasi senibudaya? Singkatnya,  karena ketika saya bikin yayasan seni,  argumentasinya terlalu banyak kegiatan seni yang saya geluti dan adakan,  serta banyak kegiatan senibudaya di masyarakat yang saya kabarkan dengan cara khas saya,  maka saya menyebut,  itu cara baca, meluruskan, dan proses kreatif. Tentu di dalamnya berlaku rumus menerima dan menolak tradisi juga. Maka persis seperti visi-misi Yayasan Cannadrama saya,  menuju masyarakat seni (seniman dan pencinta seni)  Indonesia apresiatif.  Mengerti dan menghargai seni.

Maka sejak tahun 1992 saya naik siar di radio dengan visi-misi itu.  Dimulai dengan acara Apresiasi Sastra.  Tanpa visi-misi itu saya tentu milih mundur. Buat apa membawakan acara tanpa guna?  Sia-sia. Cuma tampil di radio doang.  Cuma berani bicara tanpa dasar yang kuat.

Ada banyak jenis dan bentuk kesenian dan budaya di masyarakat tetapi masyarakat tidak memahaminya.  Bahkan tidak bisa melihat nyawanya.  Sehingga berbahaya,  senibudaya itu ke depan bisa hadir tanpa ruhnya.  Apalagi yang bersifat hiburan,  bisa semata soal uang,  bukan uruasan nilai.

Ada yang rendah nilainya,  tetapi malah diterima.  Padahal seperti membuat dan bisa membuka ruang sebesar-besarnya kecelakaan sosial seperti yang sudah terjadi di negara-negara yang katanya maju.  Sedangkan yang tinggi nilainya, dari Timur atau dari Barat,  hanya karena samar-samar berbenturan dengan paham spirituslitas tertentu tidak diterima. 

Di sisi lain banyak masyarakat awam,  bahkan kaum intelek,  yang tidak paham seni ini dan seni itu. Sehingga saya katakan,  ada saatnya kita bertemu dengan suatu waktu,  ketika masyarakat mesti dipaksa tahu.  Agar tentram sejahtera lahir dan batin. Agar bahagia.  Bukan malah mencederainya.

Pada terminologi ini kita pasti membantah kalimat,  tidak semua hal mesti dijelaskan.  Sebab segala peristiwa sedang menjelaskan dengan sendirinya.  Dengan caranya. Meskipun lambat dan cepatnya bisa beresiko.  Sedangkan manusia beradab cenderung memilih berfikir, harus pas, harus tepat. Semoga besar suksesnya. Maka ia pun merasa wajib hadir,  berbuat, menjelaskan. Meskipun salah-benar dan Iklas-tidaknya penyampaian kita juga sedang dijelaskan oleh hidup kepada masyarakat. Dihisab. Setiap yang ganjil pasti terbaca.

Analoginya,  bahkan kepada anak TK sendirian di suatu ruang kosong,  kita tidak boleh salah ucap,  bersikap dan berbuat,  untuk menjelaskan sesuatu.  Sebab kita sedang berhadapan dengan raksasa super besar,  hari ini dan di masa depan,  juga berhadapan dengan kesaksian yang maha hidup.

Itu sebabnya,  cannadrama,  kisah bunga tasbih,  menjadi seperti muazin. Suapaya tidak kontroversi dengan telinga tertentu, ya,  kita lihat menjadi seperti muazin dalam sholat berjamaah di halaman kampus,  sekolah,  atau di mushola tempat kegiatan majlis taklim.  Di situ serba tidak jauh dari pembicaraan dan penerimaan senam aerobik, goyang dangdut,  qosidahan, berbagai lukisan dinding, sinetron, dll.

Pendeknya,  yang harus dibicarakan ya bicarKan saja.  Terbuka saja.  Blak-bakan saja. Argumentasinya yang jelas, tepat, cerdas, teduh,  dan menyesaikan masalah.  Tidak kabur dari tafsir kitab suci. Ajaran yang lurus. Apalagi Indonesia itu di mata saya,  nasionalis relijius. Negara berpancasila,  berketuhanan yang maha esa.  Nasionalis beragama.

Tahun 1990 saya aktivis Remaja Mesjid dan Karang Taruna.  Untung kami tidak terlalu sulit membawa remaja dan pemuda yang sama ke kegiatan dakwah di mesjid,  sementara di waktu lain bikin kegiatan panggung seni yang dangdutan. Nyaris tak ada kontradiksi.  Bagi kami,  yang penting dangdutannya baik dan aman. Tetapi ketika mau mulai siaran pertama saya sempat mikir sejenak. Sebab Apresiasi Sastra ketika itu diselingi lagu-lagu dangdut pilihan. Sehingga saya berdoa,  semoga para pembaca puisi semacam karya Taufik Ismail,  kemudian karya Emha Ainun Nadjib tidak anti dangdut.

Alhamdulillah,  acara lancar.  Rutin setiap minggu. MC acara keagamaan pun jalan terus. Meskipun saya MC pangung macam-macam juga,  tak terkecuali dangdutan. Ini penting,  sebab visi misi acara Apresiasi Seni (termasuk Apresiasi Sastra) butuh keyakinan dan pemahaman kondisi masyarakat.  Sebab radio adalah tempat bicara,  ruang komunikasi yang efektif dan bijak.

Di awal-awal itu siaran saya didengar oleh masyarakat Sukabumi,  sebagian Cianjur dan sebagian Bogor. Kemudian berlanjut ke pendengar Bandung dan sekitarnya.  Sampai akhirnya menemani pendengar di Purwakarta,  Subang dan sebagian Karawang.

Satu lagi,  bagi saya,  dan siapapun yang seperti saya, sebagai narasumber yang seorang muslim,  harus bisa selalu berfanatik Islam. Sefanatik mungkin. Istikomah.  Ini wajib. Asalkan tidak memegang fanatisme sempit atau fanatisme buta.  Meskipun pembahasan senibudayanya mesti mudah terbaca humanis-universalnya,  sebab Islam pun humanis universal.  Rahmatan lil alamin. Bahkan saya senantiasa berfikir dalam sekat imajiner, seolah-olah semua ummat beragama berbeda sedang dengar acara saya.  Sehingga posisi saya di tengah-tengah. Malah bagus kalau kita pintar membuka tafsir dari suatu dalil di situ.  Terdengar teduh dan nyaman.

Oke.  Sekarang kita masuk sisi praktisnya.  Di radio itu dikenal dua jenis narasumber.  Yaitu narasumber yang dipanggil sewaktu-waktu,  dipanggil untuk mengisi acara rutin mingguan,  atau narasumber yang melamar untuk mengisi acara rutin itu. Saya sendiri termasuk yang melamar. Tetapi saran saya,  kalau kita menganggur atau ingin lepas dari pekerjaan lama,  untuk jadi narasumber sebaiknya terjun total saja jadi penyiar radio biasa,  harian, sambil negosiasi kepada Programmer dan Kepala Studio atau kepada Direktur untuk sekali duakali seminggu membawakan acara Apresiasi Seni.

Apa modalnya? Punya jam siar dan yakin bisa menjawab persoalan senibudaya. Ahli. Dari jenjang pendidikan formal atau non akademik. 

Ada narasumber senibudaya khusus yang maju dengan menyodorkan satu keahlian khusus.  Misalnya pemain kecapi. Dia berdialog di udara,  menerima pesanan lagu,  dan menjelaskan ini itu seputar seni kecapi. Ada narasumber Wayang Golek.  Untuk mengudarakan satu judul wayang,  ia bisa memenggalnya 3-4 kali.  Untuk berdiskusi,  tanya jawab,  dan membahas tema dan falsafah wayang.  Bisa self operating maupun pakai operator. Dan masih banyak lagi contoh narasumber khusus ini. Termasuk narasumber Apresiasi Sastra. Juga narasumber yang mengasuh acara wawancara dengan berbagai macam komunitas seni.  Ia harus paham betul dunia seni dan komunitas.

Sedangkan narasumber senibudaya yang bersifat umum.  Ia bebas menyampaikan berita senibudaya apa saja yang sedang berproses di tengah masyarakat. Mengulasnya,  membuka tanya jawab atau membuka ruang diskusi. Selain yang sedang populer,  narasumber ini juga biasa membahas senibudaya yang tidak terlalu populer,  hampir punah,  bahkan yang diketahui pernah ada. Selain itu ia juga sensitif melihat geliat kreatifiras,  ekplorasi dan eksperimen senibudaya yang bisa mewarnai masa depan senibudaya Indonesia.  Narasumber yang umum seperti ini,  harus terlihat jelas sebagai pawang senibudaya Indonesia. Ia terdepan, membaca ke dalam negri dan ke dunia internasional. Ia penyelamat muka bumi. Apalagi senibudaya itu multi tema.

Ada juga narasumber senibudaya umum yang bersifat khusus,  yaitu narasumber senibudaya daerah. Ia menyampaikan teori dan berwacana secara umum,  universal,  tetapi dibatasi oleh bahasa, kesenian dan adat istiadat daerah.  Misalnya narasumber senibudaya Sunda, Jawa,  Melayu dst.

Nah, anda tertarik pada yang mana?  Semestinya yang membuat anda merasa yakin.  Yang menjadi kekuatan dan inspirasi terbesar hidup anda. Selamat memulai kiprah anda sebagai narasumber senibudaya di radio-radio. Sukses selalu pawang senibudaya Indonesia!

Terakhir saya titip pesan,  buat narasumber pemula,  kita jangan cuma penghafal banyak hal, tetapi penyampai pemahaman. Kita bisa saja tidak tahu-menahu Seni Samrah. Tapi 100% tahu prinsipnya. Bahkan seorang marasumber tari asal Perancis ketika menjadi pembicara tari jaipong,  ia akan menyebut, jaipong adalah suatu tarian tradisional asal Jawa Barat di Indonesia. Ia akan posisikan seperti ketika melihat tari tradisi khas dari berbagai belahan dunia. Narasumber ini mungkin tidak kenal beberapa tari tradisi Nusantara lainnya, belum baca dan belum lihat,  tetapi selalu bisa menjawabnya. Begitulah ahli. 

Gilang Teguh Pambudi
Cannadrama.blogspot.com 
Cannadrama@gmail.com 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERLU GAK HARI AYAH? Catatan lalu.

Chairil, Sabung Ayam, dan Generasi Berlagak ABG

TEU HONCEWANG