Postingan

MONSTER VS RAKSASA

Tulisan status media sosial Face Book MONSTER VS RAKSASA Tambahan, moga mencerahkan. Analogi saja. Salahsatu monster yang sangat besar misalnya, sindikat peredaran dan pemakaian narkoba. Itu monster. Besar sekali. Matanya besar menonjol ke depan, kadang melibatkan mata oknum aparat. Jari-jarinya berkuku tajam mematikan. Bagaimana tidak? Yang dipakai berkelahi celurit dan senjata api. Kalau diumpamakan monster animasi, sangat bengis, bungkuk, kuat tapi jelek mukanya. Maka kalau ada remaja mesjid memusuhinya, dia akan jadi raksasa yang lebih besar dari monster itu. Kenapa tidak? Dia bersatu tubuh dengan pemerintah, polisi, lembaga pendidikan, tokoh agama, tokoh masyarakat dll. Kalau diumpamakan dalam animasi, mirip Krishna. Untuk menghadapi ular syetan yang besar ia bisa berubah jadi raksasa besar atau setidaknya mengeluarkan tenaga raksasa. Bagaimana kalau di daerah (daratan) yang cenderung bar-bar dan preman? Si remaja mesjid seperti pejuang terkucil di situ? Ia tentu tetap raksas...

DINDING PUISI 141-150

Gambar
DINDING PUISI 141 Seburuk-buruknya sampah puisi bagi penyair adalah puisi-puisi yang pernah ditulisnya tetapi disadarinya tidak perlu dipublikasikan. Bahkan kelak hilang pun tak mengapa. Bahkan beberapa penyair pun pernah meremas kertas puisinya sendiri lalu membuangnya ke tong sampah. Bukan. Bukan karena alasan salah bikin atau puisinya buruk rupa. Sering juga karena, puisi itu dianggap tidak perlu hadir ke ruang publik. Sebab kalau soal garis-garis kuat atau lembut yang 'dibuang sayang', masih bisa diselamatkan melalui puisi-puisinya yang baru. Seperti saya tentu akan sangat rugi kalau gak punya kata-kata, langit kotak, peresegi ka'bah, lengkung mesjid, jaring laba-laba, mata cadar, wajah diri dan telapak perbuatan, kelebat jilbab, lagu pinggul, rindu randu, malam dibagi tiga, kuda-kuda kotamu, kasih untuk semesta, hidup ini yatim, dll. Tetapi kalau suatu saat pernah menulis salahsatunya dan membuang sajaknya, pasti akan lahir sajak selanjutnya. Lalu apa yang terlalu ...

DINDING PUISI 131 - 140

Gambar
DINDING PUISI 131 Kalau dari catatan Yayasan Seni Cannadrama (Kisah Bunga Tasbih) yang saya ketuai sejak dari Bandung, ada satu hal penting. Ketika ratusan-ribuan remaja mengitari kesenian, target nomor satu adalah APRESIASI SENI. Memahami dan menghargai eksistensi seni ---yang membangun peradaban manusia--- dengan segenap proses kreatif dan dampak hasil kreatifnya. Persoalan mereka mau jadi seniman atau pekerja seni, itu lebih kepada panggilan bakat dan kerja pada sedikit orang. Dan kita akan terus bersyukur, dengan meratanya Apresiasi Seni Masyarakat, sebab selain akan terjadi transformasi nilai-nilai humanisme-universal melalui seni, juga bisa melahirkan para aktivis sosial yang memilih jalur kesenian. Semisal, dalam satu Panggung Anti Korupsi, bisa terdapat 7 penyair, 100 aktivis pencinta puisi, puluhan panitia, dan ribuan penonton yang suka puisi, atau dibuat suka kepada puisi. Ini yang bisa bikin sukses multi-program. Eksekusi yang optimal. Gerak massa yang efektif. Itu sebabnya...

DINDING PUISI 121 - 130

Gambar
DINDING PUISI 121 Kenal panggung puisi sisipan? Dari sejak lama sering saya tonton bahkan saya adakan. Misalnya pada suatu acara hari ulang tahun radio. Di tengah berbagai seni yang naik panggung, saya sediakan space waktu untuk penyair atau seniman pembaca sajak, minimal untuk membacakan 2-3 puisi. Syukur-syukur bisa dijatah dengan waktu, misalnya 30-60 menit. Itu model panggung puisi sisipan pertama. Kedua ketika kita punya acara gelar seni dalam waktu seminggu, lebih, atau cuma beberapa hari saja. Dalam paket acaranya ternyata ada satu hari untuk panggung puisi. Peristiwanya mirip dengan panggung teater sisipan. Ketika sebuah pertunjukan teater bisa mentas 1-2 jam diantara berbagai acara seni atau acara sosial dan keagamaan. Termasuk di panggung Agustusan. Atau dalam satu paket kegiatan dalam sepekan ada jatah satu hari untuk pementasan teater. Dalam panggung puisi sisipan bisa serba praktis pada momen tertentu. Ketika panitia panggung tiba-tiba mengambil inisiatif bikin pangggu...