Postingan

DINDING PUISI 131 - 140

Gambar
DINDING PUISI 131 Kalau dari catatan Yayasan Seni Cannadrama (Kisah Bunga Tasbih) yang saya ketuai sejak dari Bandung, ada satu hal penting. Ketika ratusan-ribuan remaja mengitari kesenian, target nomor satu adalah APRESIASI SENI. Memahami dan menghargai eksistensi seni ---yang membangun peradaban manusia--- dengan segenap proses kreatif dan dampak hasil kreatifnya. Persoalan mereka mau jadi seniman atau pekerja seni, itu lebih kepada panggilan bakat dan kerja pada sedikit orang. Dan kita akan terus bersyukur, dengan meratanya Apresiasi Seni Masyarakat, sebab selain akan terjadi transformasi nilai-nilai humanisme-universal melalui seni, juga bisa melahirkan para aktivis sosial yang memilih jalur kesenian. Semisal, dalam satu Panggung Anti Korupsi, bisa terdapat 7 penyair, 100 aktivis pencinta puisi, puluhan panitia, dan ribuan penonton yang suka puisi, atau dibuat suka kepada puisi. Ini yang bisa bikin sukses multi-program. Eksekusi yang optimal. Gerak massa yang efektif. Itu sebabnya...

DINDING PUISI 121 - 130

Gambar
DINDING PUISI 121 Kenal panggung puisi sisipan? Dari sejak lama sering saya tonton bahkan saya adakan. Misalnya pada suatu acara hari ulang tahun radio. Di tengah berbagai seni yang naik panggung, saya sediakan space waktu untuk penyair atau seniman pembaca sajak, minimal untuk membacakan 2-3 puisi. Syukur-syukur bisa dijatah dengan waktu, misalnya 30-60 menit. Itu model panggung puisi sisipan pertama. Kedua ketika kita punya acara gelar seni dalam waktu seminggu, lebih, atau cuma beberapa hari saja. Dalam paket acaranya ternyata ada satu hari untuk panggung puisi. Peristiwanya mirip dengan panggung teater sisipan. Ketika sebuah pertunjukan teater bisa mentas 1-2 jam diantara berbagai acara seni atau acara sosial dan keagamaan. Termasuk di panggung Agustusan. Atau dalam satu paket kegiatan dalam sepekan ada jatah satu hari untuk pementasan teater. Dalam panggung puisi sisipan bisa serba praktis pada momen tertentu. Ketika panitia panggung tiba-tiba mengambil inisiatif bikin pangggu...

GITU AJA KOK REPOT, Catatan 18 Desember 2018

BUKAN TEBAR PESONA KEBOHONGAN Kadang saya merasa-rasa, ketika sedang nulis status FB atau nulis di Blog, "Dua-tiga tahun lalu saya pernah bilang begini dan begitu di #radio, agar masyarakat peduli dan ada proses pembangunan yang sungguh-sungguh". Atau saya bilang, "Dalam hal apresiasi seni, mestinya begini dan begitu". Rasanya, tiba-tiba selalu ada pihak tertentu yang mau menggugat, "Kami gak pernah dengar!" Suatu cara untuk menyudutkan bahwa saya tidak pernah jujur dan tidak pernah melakukan apapun. Tetapi sesunguhnya dia lupa, bahwa maksud tulisan status dan blog itu untuk membuat yang tidak sempat dengar radio pada saat itu, setidaknya bisa menjadi tahu dari penjelasan saya saat ini. Kalau sampai 10x saya nenceritakannya, berarti 10x pula anda bisa mengetahui dan memahami sesuatu hal. Saya jadi tiba-tiba teringat ketika pernah mementaskan #teater tema ini dan itu, lalu membicarakannya di kemudian hari, tema-tema itu seperti masih terus bekerja dan berp...

DINDING PUISI 111 - 120

Gambar
DINDING PUISI 111 Betul. Ini serius. Kalau anda menyanyikan lagu Begadang dari Rhoma Irama, ya begitu itu lagunya dari dulu sampai sekarang. Dari panggung ke panggung. Pun kalau anda menyanyikan lagu Berita Kepada Kawan atau lagu Ayah dari Ebiet GAD. Selalu begitulah menyanyikannya. Yang beda itu kan cara menjiwai, mengekspresikan dan mengeksplorasi khasnya masing-masing. Sebab khas Rhoma, Ebiet, Rosa, Tulus, dll kan gak bisa dipaksakan pada penyanyi lain. Beda dengan musikalisasi puisi. Saya katakan, ketika puisi Aku dari Chairil Anwar digarap musikalisasinya oleh beberapa mahasiswa dari kampus A di pulau Jawa, hasilnya akan beda dengan hasil musikalisasi beberapa mahasiswa dari kampus B di Sumatra, misalnya. Termasuk dalam hal pilihan musiknya. Mungkin pada kelompok satu lebih cenderung ke pop balada sementara yang lain cenderung pop rock. Malah pada puisi-puisi lain yang sama, pada satu kelompok dibuat berirama keroncong, pada kelompok yang lain dibikin ngedangdut. Begitulah musik...

STATUS: PUISI RAMADAN PUISI HIDUP

INI HIDUP INI PUISI Tiba-tiba merasa perlu berargumentasi. Puisi dalam buku antologi bersama ini berjudul Hidup Romadon, meskipun maksud saya ya Hidup itu sendiri. Sebab kita sering terjebak pada ruang sempit kalau sudah berhadapan dengan istilah Islam. Bahkan saya memaklumi kalau ada yang semangat membaca puisi ini dengan judul Hidup. Sebab, bahkan Islam itu artinya Hidup, hidup yang selamat. Lawannya kematian. Ya , menggunakan cara baca sebagian anda, ini memang betul seperti bukan puisi. Maklum kita sering terjebak pada penjara ketentuan sepihak yang keji, puisi itu begini dan begitu. Tetapi karena saya penyair, maka sudah pasti ini puisi. Kemayoran, 7 Oktober 2017

POLITIK DAN PUISI, STATUS FB 2016

POLITIK DAN PUISI? Sederhananya, puisi itu, kalaupun tidak indah karena 'permainan' bahasanya, setidaknya bernilai indah karena pesan kemanusiaannya. Ukuran kemungkinan dimuat koran, diperdengarkan di radio, atau diterbitkan pada sebuah buku, adalah satu jalan menemui kualitas. Mencapai pengalaman universal kemanusiaan, bukan kecenderungan pribadi, menjadi pertimbangan keumumannya. Melahirkan puisi, kecerdasan yang bijak sangat dipertaruhkan. Kecuali kalau sebatas teriakan dipanggung tanpa kontrol yang terdengar seperti puisi. Rugi kalau kita mematikan wajah kepenyairan yang agung pada diri kita  dengan memandulkan intuisi keumuman itu. Karena para pembaca (apalagi penyair-penyair yang kuat kepenyairannya) akan mencatat untuk kurun waktu seumur hidup. Bukan untuk kebutuhan politik praktis 5 tahun, misalnya. Kemayoran, 20 November 2016

KENANGAN WAYANG?

DEPAN WAYANG TVRI Kalo lagi nonton wayang kulit, seperti malam ini depan TVRI. Saya pasti teringat almarhum bapak yang sangat suka wayang. Yang lahir di Bogor, tetapi karena berasal dari keluarga besar Wong Jowo (Banyumas), setelah 'pensiun' dari perkebunan berumah dan meninggal di Sukorejo, Kendal. Maklum, dulunya lama jadi mandor besar perkebunan kopi Curug Sewu. Kedua, saya pasti terkenang pengalaman sejak kecil depan tontonan wayang, baik langsung atau depan TV. Kadang saya sangat serius pada jalan ceritanya, kadang lebih fokus pada cara dalang memainkan wayang hingga membuat simbul-simbul melalui piihan gerakan dan penggambaran, tapi kalau sedang sedikit terkantuk-kantuk suara dalang, gamelan dan sinden seperti romantisme langit paling menentramkan. Subhanallah. Apalagi sejak kelas 4 SD bapak saya kalau malam-malam suka ngajak mendengarkan siaran wayang kulit dari radio, RRI Jakarta. Kalau wayang golek Sunda, sejak SMP saya biasa dengar dari radio swasta lokal. Selain pe...